Jumat, 10 April 2015

Kelompok 11

Apa itu kelas Inspirasi? Saya harap anda semua bisa mencari sendiri informasinya di mbah Google.

Setelah dinyatakan lolos dalam babak penyaringan, hati saya senang sekali... sekaligus gundah! Apa yang akan saya sampaikan nanti? Ini menghadapi anak-anak sekolah SD belum punya bayangan apa yang nanti akan disampaikan. Saya diharapkan bisa memberikan inspirasi tentang cita-cita. Sesuai dengan profesi yang disandang saat ini.

Saya tergabung dalam relawan Kelompok 11, Kelas Inspirasi Bekasi 2. Ada banyak sekali relawan yang mumpuni di bidangnya, membuat saya minder.


Ada mbak Susan, Head of Corporate Secretary Dept. dari  PT. Bumi Serpong Damai Tbk. Ada mbak Gita, Pengajar dari YPM Safira Musik. Ada Mbak Chandra, Pengacara dari LGS Firm. Ada mbak Darina , Officer HCM (Human Capital Mgt) dari PT Telkom Tbk. Ada mbak Dian, Pialang Saham dari PT Samuel Sekuritas Indonesia.
Hmm, dari relawan pengajar yang ada, 6 orang, hanya saya doang yang paling cakep. Eh masih ada mas Erwin dan mbak Desi sebagai fotografer yang meliput semua kegiatan.

Dalam hati saya sudah ketar-ketir, ini bagaimana ngatur waktunya ya. Apa gak mumet nantinya di dalam kelas tanpa jeda sedikitpun. Tapi untungnya (selalu menganggap segala sesuatu dengan positip, untungnya?) ada rekan relawan dari panitia, mas Fahri, yang berprofesi sebagai IT analys memberikan nafas buatan buat tim.

Sekolah yang saya kunjungi adalah SD Negeri Bekasi Jaya 14. Lokasi sekolah berada di daerah Proyek Bekasi.
Jam setengah tujuh saya sudah sampai lokasi. Sudah hadir mas Erwin, alhamdulillah saya ada teman. Lebih baik daripada datang pertama kali. Ternyata, mas Erwin belum berkenalan dengan guru-gurunya, alhasil dia tidak berani masuk ke dalam kantor, alamaakk.

Hujan menyambut di pagi hari, dan teman-teman masih terjebak di derasnya hujan jalan raya. Dan beberapa guru juga belum datang. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Dalam hati, saya panik diam-diam. Ini bagaimana, ini trus bagaimana. Hanya beberapa guru dan relawan pengajar yang sudah masuk ruangan kantor. Opening event tidak mungkin digelar di lapangan karena hujan deras.

Sekali lagi saya berucap alhamdulillah karena pas injury time semua relawan dan semua dewan guru sudah hadir. Hati saya tenang untuk sesaat. Setelah itu bersiap untuk dag dig dug di hadapan anak-anak sekolah. Sudah saya bilang, ternyata di dalam hati ada sedikit rasa gentar. tapi gakpapa yang dihadapi adalah anak-anak, semoga saya bisa.

Jadwal yang sudah disusun saya tempel di tembok untuk kontrol waktunya. Alhamdulillah saya kebagian 4 kelas. Secara berurutan Kelas 4, kelas 5, kelas 6 dan kelas 2.


Memasuki kelas pertama, kelas 4 cukup bersahabat. Salam saya pertama kali dijawab dengan serempak. Karena saya sudah merasa di atas angin, saya ajak para siswa permainan lompat-lompat dulu.

"Ketika saya mengucapkan kata ke kanan. Ucapkan kata "KANAN" dengan disertai lompat ke kanan"

Lompat-lompat ke kanan, kiri, depan, dan belakang berjalan dengan sukses. Bagaimana kalau perintahnya dibalik.

"Ketika saya mengucapkan kata ke kanan. Ucapkan kata kiri dengan disertai lompat ke kiri."

Perintah saya ucapkan dengan menggerakkan tangan saya ke kanan dan ke kiri, ke depan dan ke belakang. Untuk mengacaukan konsentrasi. Hahahahaha seruuuu ... Para siswa saling memahami salahnya di mana.
Saya review lompat-lompatnya tadi kepada para siswa, apa kendalanya. Apa yang membuat mereka bingung. Dengan menentukan identifikasi kebingungan maka mereka akan mudah membuat pemecahan versi mereka sendiri.

Berlanjut ke materi yang saya sampaikan. Pertanyaan awal saya sangat mudah, untuk memancing pemahaman yang akan saya berikan.
"Jika ibu ingin membuat sayur sop, bahan apa yang harus dibeli?"
karena sangat mudah itulah seluruh siswa bersuara. Haaa, ternyata saya membuat kesalahan pertama. Saya tulis saja masing-masing jawaban di papan. Akhirnya setelah 10 jawaban saya tulis, teriakan anak-anak mulai mereda dan berpikir. Hahahaha saya sudah menguasai kelas kembali. Tidak disangka mereka mampu menjawab 17 bahan untuk membuat sayur sop. Suatu pencapaian yang luar biasa di luar bayangan saya.
Kemudian saya mulai masuk bercerita tentang profesi saya, dengan mudah dicerna meskipun pengucapannya masih banyak yang salah. Saya maklumi karena sangat asing bagi siswa kelas 4 untuk mendengarnya, apalagi menyebutkannya.

Di akhir sesi, saya meminta beberapa siswa untuk maju menceritakan cita-citanya di depan kelas. Berebut lagiiii. Metode menenangkan yang cukup efektif adalah siapa yang duduk dengan tenang dan tidak bersuara akan dipanggil maju dan mendapatkan bintang penghargaan.
Saya mendapati siswa terakhir dengan cita-cita menjadi pemain sepakbola Indonesia. Maka secara spontan saya mengajarkan tepuk Indonesia. Dengan tangan menggenggam, saya teriakkan "Indonesia!" disusul dengan tepuk prokprok prokprok prok.
"Indonesia!" prokprok prokprok prok
"Indonesia!" prokprok prokprok prok
Saya meninggalkan kelas 4 dengan bangga.

Masuk ke kelas 5, saya awali dengan acara lompat-melompat dulu seperti kelas 4 tadi. Ternyata saya melakukan kesalahan kedua. Ternyata beda kelas harus beda penanganannya. Saya berusaha untuk tetap mendapatkan perhatian dari siswa dengan cara yang jitu. Langsung saya balik perintah lompatnya, siapa yang masih salah harus tetap berdiri hahahhaaha, sukses!

Saya menemukan anak di kelas 5 yang berkebutuhan khusus. Saya lupa namanya karena terlalu banyak nama yang saya lihat dan saya sebutkan. Diajak bermain pun tetap bisa aktif, meski pada hal-hal tertentu dia malah asyik dengan pikirannya sendiri.

Ketika dia saya pilih untuk maju untuk mengungkapkan cita-citanya, dia dengan mantap berkata ingin jadi masinis. Teman-temannya di kelas 5 terdiam saat mendengarkan cita-citanya, sehingga suaranya terdengar di seluruh kelas. Anak yang disepelekan di kelas itu pun sanggup berkata di depan teman-temannya sendiri dengan yakin.

"kamu harus bekerja keras! kamu harus bekerja keras! PASTI BISAAA!"
Seluruh siswa kelas lima serentak meneriakkan semangat kepadanya. Tentunya dengan aba-aba saya.
Semoga di suatu hari kelak, dia bisa mengingat saya tentang cita-citanya itu.

Tidak terasa waktu berjalan cepat, jam menunjukkan pukul setengah sepuluh. Ahh ternyata kelas 5 tadi sangat menguras seluruh tenaga saya. Beruntung saya bisa istirahat sejenak sembari bercanda dengan para guru yang ada.

"Sampeyan baru 1 jam mengajar mas, guru-guru di sini setiap hari mengajar siswa seperti itu." Celetuk guru

"Iya Bu, di kelas 5 tadi saya sampai nangis jidat. Jidat saya bercucuran kayak nangis Bu." Jawab saya sambil tertawa. Seluruh isi ruangan tertawa bareng.

Jadwal saya setelah istirahat masuk ke kelas 6. Kelas 6 ini rasanya lebih tertib dan lebih fokus. Maka saya pun lebih serius memberikan flash break sambil review tentang relawan pengajar yang sebelumnya.

"Perhatikan ucapan saya, perhatikan kata-kata saya!"

"Ini apa?" sambil memegang penghapus "Jawabnya, Saham"
"kalau ini?" sambil memegang buku "Jawabnya, Tower"
"Kalau yang ini?" sambil memegang Marker "Jawabnya, Pengacara"

Saya ulangi 2 kali sampai mengerti dan lancar menjawabnya. Permainan baru di mulai. Saya memegang yang lain.

"kalau yang ini?" Tanya saya menggoda
"Amplop ..."
"Salah!"
"Itu amplop pak ..."
"Salah!"
" ... "
"Salah! kenapa jawabnya itu?" Jawab saya mengejar
Semua terdiam
"  ...  !"
"YES! kamu benar! kamu tahu apa maksud saya"

Saya memegang buku dengan pertanyaan yang sama.

"Ini apa?"
Ada yang sudah mengerti polanya, ada yang belum mengerti. Saya biarkan mereka berpikir dengan pikirannya masing-masing. Atau barangkali ada pembaca juga belum menemukan pola pertanyaan di atas?

Saya masuk ke materi. Cukup mudah membawa imajinasi siswa kelas 6 karena mereka cukup logis dengan imajinasi mereka. Sempat juga ada yang berantem, haduuhhh ... kenapa kalian berantem di kelas saya. Saya berusaha mengajak berdamai tapi tetap saja gagal, kelas tetap rusuh. Jalan lain yang harus diambil adalah mengalihkan perhatian. Saya menyuruh berkonsentrasi dengan permainan lagi. Cukup berhasil juga bisa mengalihkan dari berantem ke hal permainan. Meski ada sedikit dendam namun suasana terkendali.
Materi saya bawa ke ranah cita-cita. Dengan pembagian reward tentunya. Setelah antusias dengan cita-cita, saya mengingatkan kembali tentang berantem tadi, bahwa permintaan maaf dan pertemanan itu lebih penting daripada menyimpan dendam. Semoga kalian menjadi orang-orang besar nanti.
Saya meninggalkan kelas dengan menanamkan hati yang lemah lembut pada siswa.

Memasuki kelas berikutnya, kelas 2. Whaa lucu-lucu dan imut. Saya malah bingung menjelaskan profesi saya kepada anak-anak seumuran itu. Perhatian hanya bertahan 3 menit, selanjutnya sudah bubar semua sesuai dengan pikiran masing-masing. Sebenarnya untuk mencari perhatian siswa kelas 2 cukup mudah. Secara spontan saya minta tepuk satu.

"Tepuk satu!"

"Praak"

Begitu saya bilang "Belum kompak" atau "Belum semangat" suasana langsung terkendali seketika. Saya mencoba lagi dengan permainan bahan-bahan membuat sayur sop. Cukup lumayan juga jawabannya. Hanya bisa menjawab 10 item yang benar. Lainnya menjawab bumbu-bumbu, sayuran, asem, kacang panjang, santen halah ....

Tapi cukup menyenangkan juga dengan siswa kelas 2 ini. Sayangnya waktu untuk kelas 2 sangat singkat. Saya harus menyudahi kegiatan mengajar di kelas ini dengan memberikan sisa reward yang saya pegang. Saya keluar ruangan dengan bangga.

Saya sengaja tidak memasang foto, supaya tidak kelihatan wajah saya. Agar kalian hanya bisa membayangkan saja apa yang saya tulis. Semoga saja tidak dianggap hoax hahaha ...


Namun anda bisa lihat aksi dan foto saya di sini 
https://www.flickr.com/photos/112325793@N02/


Terimakasih telah membaca









30 komentar:

  1. Wah, hoax ini ceritanya tanpa dilengkapi foto-foto, hahaha.
    Ki memang seruuu ya Mas. Saya belum berpartisipasi. Selamat!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saking serunya sampeyan harus ikut berpartisipasi. Harusnya sih fotonya sudah bisa di lihat di postingan di atas, hanya kurang teliti saja dalam membaca. Semoga saja tidak hoax xixixi

      Hapus
  2. ah curang nih gak mau masang foto, eh tapi kan saya udah pernah ketemu langsung ya :-D. Seru ya jadi guru sehari, jadi minat ngajar lagi gak mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Fotonya memang tidak di sini, tapi di sini. Halah ....
      Saya malah pengen ikutan lagi kalau ada kesempatan. Seruuu bangettt

      Hapus
  3. Keren sekali Baaaang. Saya cuma mengenali nama Mbak Darina Danil sama Mbak Susan (lupa tapi pernah tahu di manaa gitu). Pengen ikutan tapi gak pernah pede ngedaftar euy..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau sampeyan bisa menemukan fotonya, mbak darina dan mbak susan itu keren banget lho ngajarnya. makanya ayo ndaftar

      Hapus
  4. Asyik bner, Mas. Tampak bahagia bgtt, nih.

    Itu sudah pada pinter masak kalik yaaa. Apal bumbu2ne. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Idah kok gak ikutan, seruu lho

      Hapus
  5. selamat ya
    keknya ada blogger yg barengan imut ini y soalnya bbrp saat lalu baca dan komen
    heheh
    bgw slm knl y
    @guru5seni8
    http://hatidanpikiranjernih.blogspot.com

    BalasHapus
  6. Meski nggak ada fotonya, saya tetep percaya, kok :)
    Seru ya acaranya. Kebayang cara menguasai kelasnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sampeyan harus melihat foto-fotonya agar tahu serunya di kelas

      Hapus
  7. Buat saya ini yakin tidak hoax koq Mas...
    Apresiasi untuk kreativitas beda kelas, beda kebutuhan, beda materi ataupun strategi pengajarannya.
    Saya sangat menikmati cerita mas Mbarep saat mengikuti kelas inspirasi ini di Tulungagung. Selamat terus menginspirasi Mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah bisa menikmati tulisan saya.
      Harusnya sih bisa melihat foto-fotonya, tapi sayang kok gak bisa juga yah

      Hapus
  8. Sekarang sih apa apa informasi bisa dengan mudah, atau relatif lebih mudah dengan menggunakan mesin pencari semacam GOOGLE. Tapi kalau saya sih lebih suka GOOGLE INDONESIA

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya yakin sampeyan hanya membaca paragraf paling atas saja. Terima kasih telah berkunjung

      Hapus
  9. kayaknya seru deh, tapi....aku gak pede ngajar :I

    BalasHapus
    Balasan
    1. dicoba saja, siapa tahu nanti ketagihan
      Semoga di masa mendatang akan ada banyak sekali teman-teman yang menginspirasi lagi

      Hapus
  10. inilah kenapa....saya selalu salut sama guru :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar, saya tidak sanggup membayangkan guru itu setiap hari menghadapi siswa macam itu. Saya sehari saja sudah kewalahan menguras tenaga

      Hapus
  11. Wah keren nih jadi inspirator. Alhamdulillah saya baru bisa jadi videografer pas KI Bandung bulan lalu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Whaa videografinya akan saya cari di youtube, pasti seru banget

      Hapus
  12. fotonya dibayangkan aja, sambil meresapi kata demi kata dalam tulisan ini...halah.....bwt seru ya jadi guru sehari, semoga menginspirasi semua murid yang pernah diajar hehehe......

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, fotonya dibayangkan saja. Tapi sebenernya ada caranya untuk menuju ke foto-foto tersebut. Selamat mencari

      Hapus
  13. Aku belom ikutaaaan.. Entar aja ah pas uda pindah :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus ikood dong, dirimu kan sesosok makhluk penuh inspirasi

      Hapus
  14. keren!
    kayak memecahkan kode rahasia
    hahahahahaa....

    nice photos, by the way :)
    very inspiring :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Whaaa terima kasih sudah bisa melihat foto-foto dan aksi saya. Semoga mengispirasi di kemudian hari

      Hapus
  15. Pak Mandor, aku link back boleh? thk u :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Langsung saja mbak dipakai saja. Monggo

      Hapus

Ada komen, silahkan.
Mohon maaf jika tersandung Chapcha, setting saya sudah non-aktif tapi mungkin ini adalah kebijakan blogspot. Terima kasih